Stres yang Tidak Terkelola Hambat Pengobatan Diabetes
Benarkah stres bisa memicu diabetes? Stres dapat memicu kenaikan gula darah sehingga jika dibiarkan akan meningkatkan risiko diabetes.
Saat mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol untuk meningkatkan fokus, energi, dan kewaspadaan.
Sebenarnya stres dapat membantu untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah jika dikelola dengan baik.
Sebaliknya, stres terus-menerus dapat meningkatkan gula darah dan diabetes. Bagaimana caranya?
- Hormon stres mengganggu produksi insulin
Ketika orang sering mengalami stres, tubuh akan terus memproduksi hormon stres utama berupa kortisol yang dapat memengaruhi kadar hormon insulin.
Hormon insulin membantu memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.
Sebuah studi di Jepang dalam jurnal PLOS ONE menunjukkan kortisol tinggi dapat menurunkan produksi insulin.
Jika tubuh kekurangan insulin, glukosa akan bertahan dalam darah sehingga kadar gula darah menjadi tinggi dan sulit kembali normal.
- Stres mengubah kebiasaan makan
Ketika stres, banyak orang melampiaskannya dengan makan berlebihan (emotional eating) atau mengonsumsi makanan manis. Ini akan meningkatkan kadar gula darah dan risiko diabetes.
Mungkin makan dapat mengurangi stres tetapi hanya sesaat. Cara ini bukan solusi untuk mengelola stres jangka panjang.
Melampiaskan stres dengan makan berlebihan justru dapat menyebabkan obesitas atau penyakit diabetes melitus.
- Kualitas tidur menjadi terganggu
Stres dan siklus tidur sama-sama dikontrol sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal di dalam otak.
Ketika mengalami stres berat dan berkepanjangan, sistem yang mengatur siklus tidur akan berubah karena lebih banyak memproduksi kortisol.
Perubahan ini mengganggu pola dan kualitas tidur. Orang yang kurang tidur lebih berisiko mengalami intoleransi glukosa, gangguan metabolik yang ditandai kadar gula darah tinggi.
- Stres memengaruhi kesehatan penderita diabetes
Selain dapat memicu diabetes pada orang normal, stres berdampak lebih buruk pada penderita diabetes.
Stres memacu kelenjar adrenal untuk terus-menerus memproduksi hormon kortisol. Pada pengidap diabetes tipe 1, stres dapat menyebabkan gula darah tinggi sekaligus gula darah rendah.
Tingginya kortisol akibat stres dapat memicu kenaikan gula darah pada pasien diabetes tipe 2. Akibatnya tubuh semakin kurang sensitif terhadap insulin.
Banyak pengidap diabetes mengalami diabetes burnout. Diabetes burnout adalah stres akibat penyakit diabetes dan rutinitas pengobatan yang harus dijalani.
Stres dan frustrasi yang tidak terkelola dapat menghambat pengobatan diabetes.***







